Senin, 04 Januari 2016

Diantara Pelangi (4)

            Dua minggu kemudian….
Paparan sinar matahari menggerakkan tubuh Ayu untuk bangkit dan memulai hari pertama sekolah disemester pertama kelas XII. Semangat baru terpancar dari raut wajahnya. Pikirannya terfokus pada wajah-wajah temannya, begitu konyol, kompak dan paling bisa membuatnya tersenyum. Apalagi Iyan, mengingat namanya saja sudah terbayangkan di otak Ayu. selagi Ayu masih sempat bertemu dengan  temannya tidak ada hal yang paling menyenangkan selain itu semua. Libur panjang cukup membuatnya bosan menjalani aktifitas sendiri dan menghabiskan waktu di rumah, mengingat Iyan menikmati liburannya di luar kota kian menambah kesepian di masa-masa libur sekolah sedangkan Ika bagaikan hilang ditelan bumi dan mungkin lagi menikmati liburannya bersama Hendra secara mereka tetanggaan.
“Ayu udah siap, mau Mbak antar ke Sekolah ?” kata Mbak Rena tiba-tiba muncul dan membuka pintu kamar Ayu.
Ayu menoleh kearah Pintu.“Oww, Nggak usah Mbak aku sendiri aja.” Kata Ayu merapikan dasinya. “Bukannya Mbak ada kuliah pagi nanti telat keburu macet. Lagian aku belum selesai.”
“Oww gitu, trus kamu mau naik apa ?”
 “Hmm tenag aja Mbak, aku naik Roket kok jadi cepat nyampenya..” kata Ayu cengengesan.
Mbak Rena tampak mati kutu melihat adik satu-satunya mulai bertingkah Aneh dan memulai menerapkan dunia khayalnya. “Ya.. ampun Ayu, baru pagi udah datang tuh penyakit. kalo gitu Mbak duluan yah nanti nuler..” kata Mbak Rena sembari menutup pintu kamar Ayu.   
Sekitar lima menit Ayu pun selesai dan bersiap untuk berangkat, tiba-tiba terdengar deringan dari arah sakunya. Nampaknya Panggilan masuk Iyan sedari tadi menghubunginya, sekitaran dua puluh panggilan tidak dijawabnya dan semuanya merupakan panggilan masuk Iyan.
“Iya ada apa ?” kata Ayu sebal
“Lu sakit atau ngambek sama gua sih ? gitu amat”  Tanya Iyan heran.
“Pikir aja sendiri, baru inget sama gua, baru kasih kabar. Beberapa hari lalu kemana aja. Oww apa  lu baru inget sama temen lu..” kata Ayu dengan  suara agak meninggi.
“Yaahh Maaflah, nggak sempet ngasih tau lu.. maafin yah.”
“gua pikir-pikir dulu..” kata Ayu kemudian memutuskan Telepone.
“Hmm kebiasaan tuh anak kalo ngambek pasti kaya gini. Mana susah banget dibujuknya, perlu jurus seribu bayangan kaya naruto biar balik lagi normal” kata Iyan menghela napas panjang.

****
“Ayu, tunggu..” teriak seseorang dari belakang.
“Pasti nih Iyan.. Hmm menyebalkan” kata Ayu dalam hati  tak mengehentikan langkahnya dan terus berjalan.
“Ayu…” teriakan seseorang itu masih terdengar hingga menarik pundak Ayu.
“Ada apa sih Iyan, gua nggak mau bicara sama lu.” kata Ayu menoleh kearah belakang dengan raut muka memerah
“Iyan ? lu nggak salah liat.. gua Rio” kata Rio heran
“Oww lu, gua kira Iyan..”
“Lu ada masalah yah sama Iyan ?”
“Hmm nggak, gua duluan yah..” kata Ayu singkat berlalu meninggalkan Rio.
“Aneh gak kayak biasanya..” kata Rio dalam hati, berjalan menuju ruang seni.
Di jalan Rio bertemu beberpa adik kelas yang memanggilnya dengan sebutan “Pangeran Lukis” tak sedikitpun dipedulikan, banyak dari mereka menganggap Rio sebagai kakak kelas yang keren tapi cuek. Menyapanya saja belum tentu dibalas apalagi hanya sebuah sorakan atau tatapan mata saja sudah pasti tak dihiraukan. Namun bagi mereka Rio merupakan kakak kelas yang patut untuk dikagumi, bukan hanya soal akademiknya tapi ketampanannya sepadan dengan prestasi dimilikinya.
Bagi Rio semua yang dimilikinya bukan malah membuatnya sombong, namun itulah dia. Sosok cuek terhadap orang yang tak dikenalnya  walaupun nggak dikatakan egois. Rio tak menyalahkan keadaannya sekarang, begitu banyak orang yang mengagumi hampir sebagian dari mereka membuat Rio risih. Sebenarnya Rio tak mengharapkan itu semua. Sebuah senyuman manis setiap dirinya lewat dan merasa diistimewakan. padahal yang dia inginkan perlakuan biasa seprti temannya yang lain. Mungkin itu salah satu alasan mengapa dirinya begitu cuek dengan semua perlakuan istimewa yang diberikannya. Tidak salah orang menyebutnya seperti itu, tapi untuk orang yang  akrab dengan Rio menganggapnya tak seperti orang banyak. Di balik itu semua, dia orang yang asyik diajak berbincang-bincang tapi sikapnya suka berubah-ubah kepada setiap orang.
“Pangeran Lukis liat Ayu nggak ?” kata Iyan tiba-tiba muncul di sebelah kanan Rio menirukan tingkah laku penggemar labil Rio, siapa lagi kalo bukan adik-adik kelas mereka.  
Rio menoleh. “Lu Iyan gua kirain siapa..” kata Rio sedikit kaget. “Tadi gua liat sih malahan sempat ngobrol. Lu ada masalah yah sama dia ?” 
“Yahh biasalah, lagi ngambek soalnya liburan  kemarin gua nggak ngasih tau kalo gua lagi di Yogya. Apalagi mungkin dia ngerasa sendiri, baru kali ini gua liburan gak barengan, makanya kayak gitu.” kata Iyan sambil melangkah kecil.
“Pantesan tuh anak mukanya kaya monster. Tapi kalo gua jadi dia sih mungkin lebih ganas yah..” kata Rio mengikuti  langkah kaki Iyan.
“Mungkin, kan lu Pangeran Lukis. Orannya nggak susah ditebak, kadang cuek bahkan  kadang keliatan sok akrab gitu.” kata Iyan memulai pembicaraan sedikit konyol
Rio tertawa. “Hahah, lu bisa aja..” kata Rio melirik kearah Iyan. “Emang gua kayak gitu orangnya ?”
Iyan ikut tertawa. “Emang lu baru nyadar..” kata Iyan berlari meninggalkan Rio menuju kelas. “Dasar.. Pangeran Lukis..”
“Awas yah lu Iyan ngatain gua…” kata Rio menyusul Iyan yang berlari meninggalkannya.

****
Jam pelajaran telah di mulai, semua siswa nampak mengelurkan seluruh kelengkapan belajarnya seperti alat tulis dan sebagainya. Ayu nampak mengeluarkan beberapa buku dan selembar kertas. Diambilnya selembar kertas itu lalu ditulisnya beberapa kata “Cinta Kolom Meja” Inspirasi judul untuk Naskah Novelnya yang akan dikirim ke penerbit. Jam pelajaran Sejarah yang di bawakan oleh Ibu Rika ­­­­­tak sedikit pun diperhatikanya, Ayu lebih memilih untuk meyusun rangkaian bab dalam novelnya. Entah mengapa hari itu konsentrasinya untuk belajar Sejarah tidak memenuhi standar moodnya seperti biasa. Mengingat pelajaran Sejarah merupakan pelajaran favoritenya.
Dua jam telah berlalu, jam pelajaran Ibu Desi diakhiri dengan memberikan beberapa pekerjaan Rumah kian menambah kehebohan dalam kelas. tugas yang diberikan tak seperti biasanya, tugas kelompok menjadi metode baru  diterapkan untuk anak kelas tiga. Hal buruk bagi sebagian anak kelas tiga, sebuah metode jebakan yang mengandalkan kerja tim namun pada akhirnya hanya mengandalkan satu pihak saja dalam menyusun sebuah bahan untuk presentasi.
“Ok, kalo begitu Ibu tinhggal, tugasnya bisa dikumpul minggu depan.” kata Ibu Rika lalu bergegas meninggalkan ruangan kelas.
“Ehh Ayu ..” terdengar suara dari arah belakang bangku Ayu, tak sedikitpun membuat Ayu menoleh ke belakang hingga sebuah dentingan pulpen mengarah ke kepalanya.
Ayu akhirnya menoleh.“Sakit tau, ada apa sih..” kata Ayu dengan raut wajah sedikit kesal karena konsentrasinya untuk menulis menjadi buyar.
“Lu sih dari tadi dipanggil nggak nengok, makanya gua pake metode baru buat panggil lu..” kata Ika cengengesan
“Sudah ceritanya ?” kata Ayu datar tanpa ekspresi
 “Lu kenapa sih ? lu marah sama gua.” kata Ika heran. “atau mungkin lu masih kesal soal omongan gua ditelepone” sambung Ika
Ayu tanpa ekspresi tak menjawab perkataan sahabatnya, hanya memperbaiki posisi duduknya seperti semula dan mengarahkan pandangannya pada lembaran kertas yang berada diatas meja. Diambilnya kertas itu lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan kelas, tanpa menegok kearah Ika. 
Jam pelajaran kosong cukup membuat Ayu merasa lega, setidaknya ia bisa ke perpustakaan untuk lebih konsentrasi dalam pembuatan outline novelnya. Hari dimana moodnya cukup baik untuk menulis namun berbanding terbalik dengan moodnya untuk bergabung bersama Ika, Iyan dan yang lain.  
****

Mata  Ayu mulai tertuju pada salah satu ruangan yang lumayan luas dengan deretan buku. Terlihat dari ujung kanan hingga ujung kiri deretan buku tertata rapi dalam satu rak. Setiap raknya berisi berbagai jenis buku baik fiksi maupun nonfiksi tersusun berdasarkan tahunnya. Nampak begitu sunyi mengingat jam pelajaran berlangsung dan hanya sebagian siswa berada diantara bangku panjang yang terdapat disamping kanan rak buku.
Diletakkannya lembaran kertas yang ditulisnya, menambah inspirasi Ayu untuk mengambil beberapa buku di rak sastra berisi tentang berbagai macam kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia. Tak lupa novel favoritenya juga ada diantara buku yang terletak diantara lembaran kertas di atas meja. Setiap bab dalam ceritanya terselipkan beberapa pengalaman pribadinya, saat dimana ia merasa sedih maupun senang.
Dua jam telah berlalu, setidaknya ia masih tetap fokus. Tak ada kata lelah dan letih untuk sebuah impian yang sedari dulu diimpikan dan tak ada kata menyerah untuk setiap tantangan yang menghadang. Bagi Ayu sebuah impian tak hanya diimpikan tapi diwujudkan.
Saat mengambil buku selanjutnya, Ayu nampak bingung. Buku yang dilihatnya sebelum libur semester masih ada. Sebuah buku sederhana diantara deretan buku tahun 90-an masih terpajang dan mengharuskan Ayu untuk mencarinya dari rak atas hingga rak bawah belum juga ia dapatkan. 
“Lu cari ini ?” terdengar suara diantara sela-sela buku, menyodorkan buku yang nampak usang masih berbalutkan plastic pada halaman depan.
Ayu nampak heran. “Lohh kok…” mengambil buku yang disodorkan Rio. “Lu juga baca ini ?”
Rio tersenyum. “Yahh begitulah, buku Badai Pasti Berlalu karya Marga.T yang diterbitkan tahun 90-an. Menceritakan kisah cinta segitiga bernuansa romantic dan diperankan oleh Leo, Siska, dan Helmi. Sempat diangkat menjadi film layar lebar juga memenangkan berbagai ajang penghargaan, seperti festival film Indonesia dan piala Citra. Iya kan ?” kata Rio panjang lebar
Ayu terkesan mendengar penjelasan Rio barusan. Ia tak menduga bahwa Rio akan tahu tentang itu., terlebih yang ia tahu Rio menyukai dunia seni bukan dunia sastra. tapi setelah ia pikir-pikir juga ada kaitannya. Dunia perfilman menyangkut dunia seni. Namun tetap saja aneh bagi Ayu.
“Ha’ iya, lu kok bisa tahu.. ?”
“Iya taulah, gua suka sama ceritanya. Meskipun ceritanya sedikit dewasa. Selain itu gua juga kagum sama Marga.T sosok yang menginspirasi para penulis  untuk mengikuti jejaknya.” kata Rio dengan asyik bercerita.
“Jangan bilang lu juga udah baca buku marga.T yang berjudul Matahari Tengah Malam ?”
“Kalo iya kenapa ? ceritanya menarik seperti judulnya Matahari tengah Malam atau biasa disebut Midnight sun, ternyata merupakan fenomena yang benar terjadi pada musim panas di daerah kutub utara. Seperti yang terjadi di Norwegia dalam buku itu dijelaskan bukan!
“Oww lu kok banyak tahu soal itu, aneh tau seorang Rio yang dikenal sebagai Pangeran lukis oleh adik kelas ternyata juga tahu tentang dunia sastra.”
“Mulai lagi, emang ada yang salah ? nggak kan?” kata Rio duduk persis dihadapan Ayu.
“Salah sih nggak, cuman aneh aja.” kata Ayu mengangkat bahu. “Mungkin yang berbau tentang lu semuanya aneh yah. Entah itu sikap lu, kadang cuek kadang sok akrab gitu. Bahkan bahan bacaan lu tahun 90-an yang mungkin bagi orang lain terkesan kuno.” Sambung Ayu.
“Tapi gua rasa hidup gua nggak aneh, biasa aja sama kayak lu.” kata Rio mengarahkan pandangannya kearah Ayu. “Justru yang gua rasa aneh itu lu Ayu.” Sambung Rio
“Kok gua sih, lu tuh yang aneh..”
“Lu tuh beda dari cewek kebanyakan, bedahnya yah jauh banget. Kalo setau gua sih cewek seumuran lu biasanya suka dunia fashion entah itu suka baca majalah atau apalah, bukan buku tahun 90-an.”
“Ahh lu biasa aja. Yahh masih ada yang jauh lebih penting kali buat dibaca ketimbang harus bolak-balikin setiap halaman majalah gak jelas trus ngomong gua pesan ini yah, kayaknya keren deh. Cocok buat gua. Kan nggak banget…”  kata Ayu membela diri
Rio tertawa. “Haha lu jago juga yah ngelawak plus ngeles, bilang aja kalo lu nggak punya majalah cewek.” kata Rio asal ngomong. “Ehh gua hampir lupa, lu kapan ada waktu luang.
“Ihhh lu ngeselin banget sih” kata Ayu memanyunkan bibirnya. “ gua nggak ada waktu, lagi sibuk banget. Kenapa ?”
“Sorry bercanda kok, jadi kapan dong bisa kerja bareng soalnya minggu depan udah mau di kumpul nih..”
“Kumpul apaan ? kerja bareng ? apaan sih, gua nggak ngerti”
“Astaga Ayu lu nggak denger yah Bu Desi nyerocos apaan tadi di kelas..” kata Rio menepuk dahinya
“Denger, dia beri kita tugas laporankan.. Ehh tapi tunggu dulu, maksud lu kita satu kelompok ?”
“Iya bareng Ika juga Iyan”
“Oww sama dua makhluk astral itu..” kata Ayu dengan malas
“Jadi kapan bisanya ?” kata Rio memastikan meskipun Rio bisa menangkap katidaksukaan Ayu satu kelompok dengan Ika dan Iyan.
“Terserah lu aja deh..” kata Ayu merapikan bukunya dan berlalu meninggalkan Rio

****
Sepulang sekolah Ayu langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, akhir-akhir ini ia terlalu sibuk mengerjakan naskahnya sampe-sampe hubungannya dengan Iyan dan Ika tak begitu bersahaja apalagi minggu ini moodnya kacau, mungkin pengaruh bawaan bulanan. 
Pukul empat sore terdengar bunyi ponsel Ayu, ternyata sebuah Messeage dari Rio yang menyuruhnya ke taman belakang sekolah. Ayu segera bangkit dari tempat tidur dan bergegas untuk  kesana. Melihat pesan dari Rio nampaknya begitu penting dan menyuruhnya secepat mungkin untuk kesaana
Sesampainya disana Ayu merasa aneh, tak ada seorang pun disana. Apa Rio sedang tidak bercanda menyuruhnya kesini, namun Rio bukan tipe orang seperti itu. Dia lebih tepatnya orang yang nggak suka ngerjain orang bahkan nggak pernah meskipun cukup menyebalkan dan cuek.
“Apa sih nih maksud Rio, suruh gua kesini trus dianya nggak ada, bahkan nggak ada seorang pun disini. awas aja kalo dia ngerjain gua..” kata Ayu setengah ngedumel
“Ehh lu udah datang.” kata Rio tiba-tiba muncul
“Emangnya lu ngapain nyuruh gua kesini ?”
“Hmm, Apaa yahh….”
Tiba-tiba dari arah belakang terlihat dua orang menghapiri mereka berdua membawa sebuah kue lebih tepatnya cup cake yang diatasnya bertuliskan kata “Maaf” membuat Ayu merasa heran melihat kedua orang itu, ternyata itu Iyan dan Ika. Seketika Ayu merasa bersalah melihat keduanya dan merasa terharu, segitu berharga dirinya untuk kedua orang itu. Sampai-sampai demi baikan saja mereka berdua harus melakukan hal itu.
“Maafin gua yah Ayu, nggak ngasih tahu lu…” kata Iyan.
“Gua juga Ayu, buat lu badmood banget hari ini..” Sambung Ika
Tanpa menjawab sepatah katah pun, Ayu langsung memeluk kedua sahabatnya itu. Rio yang melihat semuanya juga merasa bahagia begitu berharganya pertemanan mereka, dan dirinya baru sadar ternyata mungkin inilah yang dinamakan Arti sebuah pertemanan. Jujur saja melihat mereka bertiga membuat Rio ikut merasa senang.
“Maafin gua juga yah, terlalu egois banget. Lu memang adalah teman paling berharga yang gua milikin.” kata Ayu masih memeluk kedua sahabatnya itu.
“Iya Ayu, kita berdua sayang lu kok.” kata Ika

******

Kesan Pertama (3)


Terlihat Ayu sedang merebahkan tubuhnya di antara bantal dan guling sambil mengotak atik beberapa foto dari camera miliknya. Foto yang diambil Ayu saat menjelajahi Bukit Bintang. Satu per satu Ayu melihat foto itu dan menemukan beberapa foto Iyan yang begitu konyol. Satu lagi Ia juga menemukan foto dirinya bersama Rio begitu dekat berdiri disampingnya.
“Nih foto Iyan kan, Lucu banget.” kata Ayu melihat foto Iyan nampak begitu konyol dengan ekspresi senyum begitu lebar dengan mata tertutup berhiaskan bunga mawar disamping kanan telinganya  membuat Ayu tertawa sendiri. “Hahahahaha, Dasar Iyan.”
 Dari arah belakang pintu terdengar langkah kaki menuju  kamar Ayu, Sseorang perempuan berdiri dibalik pintu yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Ayu
“Ayu, Buka Pintunya. Yuk Makan udah ditungguin tuh...” kata Mbak Rena mengetuk pintu beberapa kali.
Ayu bangkit dari tempat tidur.“Oww, Tunggu Mbak” membuka pintu kamar. “Aku sudah makan kok, jadi Mbak sama Mama makan aja.”
“Oww, Kalo gitu kamu istirahat aja. Baru pulang mendaki kan.” kata Mbak Rena tersenyum tipis
Ayu melongos. “Kok Mbak tahu sih, pasti Mama yah ngasih tau”
“Iya, kalo gitu Mbak ke bawah dulu.” kata Mbak Rena meninggalkan Ayu yang masih berdiri di depan pintu.
            Ayu menutup pintu kamar dan kembali merebahkan tubuhnya  mengarahkan pandangan ke langit-langit kamar, melirik beberapa poster beserta foto yang terpanjang disela-sela dinding hingga membuatnya teringat tentang sesuatu.  Ayu kemudian bangkit mengambil sesuatu yang terdapat di laci meja, sebuah kotak Hitam polos berisi Gelang berbentuk simpul persis simpul dalam Pramuka. Kotak yang disimpannya satahun lalu, merupakan hadiah yang diberikan seseorang saat Ayu berulang tahun ke-17. Dipegangnya gelang itu seketika membuatnya meneteskan air mata, sebuah kalimat dalam kotak  itu terselipkan lembaran kecil bertuliskan “Happy Birthday Mogu ku, Maaf yah kalo kadonya jelek soalnya buatan sendiri. Semoga Suka J
Hadiah sederhana hanya sebuah simpul Gelang namun sangat berharga sekaligus menjadi penyesalan mendalam bagi Ayu. Entah apa yang menggerakan hatinya untuk membuka kotak yang sekian lama disimpannya, Sejuta kenangan seakan tersirat dan sekeping penyesalan tersimpan.
Dari samping kotak, terdengar bunyi ponsel milik Ayu namun bukan sebuah panggilan atau pun sms untuknya melaikan sebuah Pesan Singkat yang dikirim Oleh Rio melalui Blackbarry Masenggernya. Melihat Nama yang tertera Rio Dewata Putra di layar ponsel membuatnya begitu terkejut.
“ Ayu, lagi sibuk yah.. ” pesan singkat yang dikirim oleh Rio.
Ayu sedikit tertegun melihatnya, kemudian membalas pesan singkat pertama Rio.
“ Ow iya nggak kok, ada apa ? ”
Rio kemudian mengetik kata demi kata hingga dirinya mengirimkan sebuah pesan. “ Udah makan belum ? temen yang baik kan harus selalu ngingetin temannya untuk makan J
Spontan saat Ayu membaca pesan Rio yang masuk membuatnya tersenyum sendiri kemudian membalasnya. “Belum, Tapi kan temen yang baik nggak sampe segitunya juga.”
Pesan yang dikirim Ayu dengan cepat dibalas oleh Rio. “ Kok belum makan, lagi dieat yah. Harusnya temen yang baik itu kaya gitu.”
“Haha bisa aja. Nggak kok..”
Ayu kemudian membalas setiap pesan yang dikirim oleh Rio melalui BlackBarry Messengger hingga akhirnya pesan yang dikirim Rio sekitar pukul 21.02 tak di read lagi oleh Ayu, Obrolan diantara keduanya pun terputus. Ayu yang telah terlelap dalam tidur nampaknya begitu lelah setelah menghabiskan waktu seharian berpetualang dengan teman-temannya.
***
Jarum jam terus berputar melewatkan setiap menit dan detik, sunyi menanti dalam harap. Hempasan sebuah buku ke atas meja menanti setiap deringan dari ponsel. Gelisah yang nampak dari raut wajah Rio kini tak tertahankan, begitu jelas terpancar.
“Apa mungkin Ayu sudah tidur yah ?” kata Rio dalam hati melirik jam dinding terpajang diantara lukisan-lukisan indah buatannya.
Begitu banyak pertanyaan yang mengisi pikirannya entah apa dan mengapa Rio memikirkan Ayu, masih merupakan tanda tanya besar dalam otaknya. Sesekali Rio melirik kembali ponselnnya, melihat pesan yang tak terbalaskan lagi.
“Hmmm, teman yang aneh penuh dengan keunikan. Tapi mengapa harus Ayu ? disaat semua kenangan lama telah terkubur bersama Rira kenapa muncul bayangan sepertinya. Setiap sikap dan tingkahnya persis dengan Rira namun Ayu sosok yang berbeda. Apakah mungkin perasaan ini belum mati ? Entahlah..” kata Rio dalam hati mengingat semuanya, kenangan bersama Rira setahun lalu belum begitu hilang dalam pikirannya.
Banyak hal yang membuat Rio tak bisa melupakan Rira, perkenalan pertama yang tak pernah diduga dan berkesan begitu unik, saat dirinya bertemu di salah satu toko buku yang ternyata merupakan seniornya di salah satu kelas privat lukis. Awalnya mereka saling mengenal tapi tak begitu akrab. Semenjak kejadian tersebut perjumpaan diantara mereka berdua berlanjut dan akhirnya Rio memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan dengan seniornya yang berjalan begitu lama hingga Rira memutskan untuk mereka berdua tidak berhubungan lagi, keputusan Rira tanpa alasan membuat Rio begitu kecewa. Bagi Rio semua kenangan bersama Rira terlalu dalam untuk bisa hilang dari otaknya. sampai sekarang pun Rio masih menikmati kesendiriaanya dalam bayang-bayang seniornya.

***

“Ayu, Mau kemana ? pagi bener keluarnya, Bukannya ini hari libur..” kata Mbak Rena sambil memangkas dan menyiram beberapa bunga di halaman depan.
Ayu kemudian tersenyum tipis. “Biasa Mbak lari pagi dulu biar sehat walaupun libur harus tetap jaga kesehatan dengan berolahraga.” Mengikat kedua tali sepatunya.
Mbak Rena tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya dan memperhatikan penampilan Ayu pagi itu yang mengenakan celana khusus olahraga dengan baju kaos putih bergambar Paris berbalutkan Handuk di lehernya. “Oww mau lari pagi toh, Tumben biasanya molor di kamar sampe siang, satu lagi kok lari pagi sembil bawa camera sih. Mbak aneh ngeliatnya…”
Ayu tertawa terbahak-bahak. “Hahaha Mbak ketinggalan nih, inikan tren 2015 gitu. Satu lagi sebenarnya adik kakak ini bukannya males bangun kalo hari libur cuman lebih nyaman stay di kamar sambil guling-guling dengan bantal.” Beranjak berdiri dan meninggalkan Mbak Rena yang masih sibuk memangkas beberapa bunga.
“Kalo gitu Ayu berangkat yah Mbak, Bye selamat beraktifitas. Jangan lupa nyiapin sarapan yah..” kata Ayu tersenyum kepada Mbak Rena dengan nada mengejek.
“Huftt dasar, adik durhaka…”  kata Mbak Rena tersenyum sambil bergumel sendiri.
Setengah jam megitari pusat kota membuat Ayu sedikit ngosngosan dan memilih untuk sejenak duduk disalah satu taman, muka Ayu tampak begitu lelah dengan cucuran keringat menetes dari keningnya. dari arah belakang terlihat seseorang menghampirinya dan memberikan sebotol air mineral, sontak membuat Ayu menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Rio yang juga menghabiskan paginya mengitari pusat kota.
“Ahh, lu kok ada disini ?”
“Yahh cari udara seger, kenapa ada yang salah ?”
“Oww gitu nggak, aneh aja”
“Aneh ?, maksudnya ? Tanya Rio mengerutkan keningnya.
“Oww nggak kok, kalo gitu gua duluan yah.” kata Ayu bangkit dari tempat duduknya. “ Ehhh hampir lupa thanks yah Minumannya, Selamat menikmati udara segar..”
Rio melongos sendiri. “Ha’..  Oww iya sama-sama” Menatap Ayu yang berlalu meninggalkannya. “Hati-hati di jalan” kata Rio kemudian termenung sendiri diantara rumput-rumput dan dedaunan kering yang jatuh di sekitaran taman. Seolah meriview kembali ingatannya.
Sikap Ayu barusan kembali menginggatkan Rio pada Rira sosok unik namun menarik. Menarik untuk bisa membuatnya merasa nyaman dan merasa berbeda  yang terakhir kali Rio rasakan saat bersama Rira. Terkadang  pandangan pertama dan cinta pertama memang sangat sulit untuk dilupakan bahkan hidup diantara sela-sela hati dan pikiran. Namun satu hal yang membuat Rio sadar bahwa cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan tetapi cinta selanjutnya akan sulit untuk dilepaskan, begitulah yang ia rasakan sekarang dengan Ayu.  Meskipun Ia tak tahu rasa apa yang menghampirinya, Cinta atau sekedar teman biasa ? tapi baginya bagaimana memulai hubungan baru tanpa hidup lagi dalam bayangan yang sekian lama terperangkap.
Dari kejauhan Ika dan Hendra melihat seseorang persis Rio yang termenung sendiri di Taman, dihampirinya orang itu ternayata Pangeran lukis, penobatan secara tidak resmi oleh penggemar labil Rio. Sempat membuat Rio menjadi tranding topic terupdate dengan penggemar kebanyakan ABG labil alias fans fanatic dari adik kelas.  
“Wetss ngapain nih Pangeran Lukis kita termenung disini ? kata Hendra menepuk pundak Rio.
“Ahh lu mulai lagi, nggak kok. Lagi nikmetin udara seger nih.”
“Oww gitu, tapi lu kaya orang kesambet sih. Bengong sendiri.” Kata Ika
Rio tertawa kecil “Haha nggak kok..” kemudian sedikit heran melihat Hendra dan Ika. “Lu berdua kok bisa disini ? tadi gua juga ketemu Ayu disini. Lu nggak barengan atau emang nggak janjian ?”
Ika melirik kearah Hendra menandakan sebuah kode untuk jawaban dari pertanyaan Rio membuat keduanya semakin kaku di hadapan Rio.
“Oww kalo soal barengan sama Hendra nggak, tadi ketemu dijalan. Jadi Ayu tadi kesini yah trus dia kemana sekarang ?” sontak terdengar suara dari Ika
“Udah pergi” kata Rio polos
“Apa ?”
“Iya, yah sekitaran 10 menit yang lalu..”
“Aduhh, gawat nih bisa disemprot lagi sama Ayu.” kata Ika sedikit panik.
“Serius ? emang tadi  janjian sama Ayu yah…” kata Hendra sedikit heran.
“Iya, kalo gitu gua duluan yah..”
Rio nampak melirik Hendra kemudian mengangkat kedua alisnya, lalu bergegas pergi.

                                                                        ***

“Lu sekarang dimana ?” tanya Ika sedikit gelisah, setelah Ayu baru mengangkat telephone darinya. Nampak Ika berdiri di trotoar jalan mengenakan pakaian bergaris dengan celana hitam olahraga pas dengan ukuran badannya.
“Ha’ gua udah ada di depan rumah, emang kenapa ?” kata Ayu heran, berada lima langkah dari pintu Gerbang Rumahnya
“Lu kok nggak telephone gua sih, kalo mau lari pagi gitu..” dumel Ika
“Oww itu, kebetulan gua bangun pagi. jadi daripada di rumah nyiram bunga, gua cari udara segar..”
“Haha.. dasar lu pinter aja ngelesnya bilang aja kalo nggak mau ajak gua soalnya ketemu sama Rio…”
“Ha’ Rio.. maksud lu apaan ? mau ngajak ribut yah” kata Ayu, seketika mukanya memerah mendengar ucapan Ika barusan.
“Haha.. bukannya mau ajak ribut tapi gua tadi ketemu Rio, katanya lu barengan gitu”
“Apa ? lu ketemu dia, trus dia bilang apa sama lu ?” 
“Bilang apa yah.. gua nggak inget lagi tuh..” kata Ika mencoba memancing kemarahan Ayu, membayangkan wajah sahabatnya tiba-tiba berubah menjadi kemerahan, persis monster dalam film Ben 10.
“Ngeselin banget sih..Masa lu nggak inget kan lu belum pikun ” Emosi Ayu mulai terpancing, mukanya semakin memerah ditambah lagi sinaran matahari pagi menambah emosinya kian meledak.
“Tapi, tiba-tiba aja denger nama Rio gua langsung pikun. Haha kalo gitu gua tutup telephonenya yah..” kata Ika dengan santai
“Ehh lu jelasin dulu jangan main tutup telephone gitu..”
“Trus gua mau jelasin apa.. Bye sampai ketemu di awal masuk sekolah yah Moguku. Haha…” Ika kemudian memutuskan telephonenya dengan Ayu.
Belum sempat Ayu mengucapkan sepatah kata pun, dengan seenaknya Ika memutuskan telephone ditambah lagi kata terakhir diucapkan Ika kian menambah emosinya untuk meledak “Moguku”. Kata yang dilihat Ika saat melihat selembaran surat dari Yogi untuknya.
“Huftt.. dasar Ika ngeselin banget. Awas aja kalo masuk sekolah, gua sumpet mulutnya pake pulpen.”  Dumel Ayu dalam hati memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong celananya. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
“Kok pulangnya cepet banget..” . kata Mbak Rena stay menonton acara TV favoritenya setiap weekend, tampak beberapa olahan kue dan jus yang berada di sampingnya.
“Udah capek Mbak..” kata Ayu singkat. Wajahnya masih tampak memerah namun emosinya mulai meredah.
“Oww ini, Mbak udah buatin jus loh.. diminum yah..”
“Mbak minum aja sendiri.” kata  Ayu cuek tanpa melirik sedikitpun kearah Mbak Rena, kemudian beranjak naik ke kamarnya.
“Kenapa sih tuh anak, tadi semangat banget. Ehh sekarang tiba-tiba ngambek nggak jelas gitu.. dasar ABG labil.” kata Mbak Rena dalam hati. Melanjutkan menonton acara favoritenya.


***

Teka- Teki di Puncak Bukit (2)


“Yang lain pada kemana nih, Udah datang belum ? bisa telat nih kalo gini.” kata Iyan tampak gelisah melirik jam yang melekat di tangannya.
“Katanya udah di Jalan  Yan, tunggu sepuluh menit lagi kata Ime ” kata Bian yang berdiri disampingnya.
“Oww gitu terus Ika, Ayu, udah datang belum ? soalnya gua BBM gak di bales..”
“Mungkin dia juga lagi di jalan, tuunggu aja.”
Beberapa menit kemudian Ime datang berselang itu Ayu dan Ika pun juga datang. Semua persiapan telah disiapkan termasuk bekal seadaanya sesuai apa yang dikatakan Iyan hanya membawa makanan secukupnya.
“Sekarang semuanya udah lengkap kan ?”kata Iyan
“Iya, tapi Iyan kita mau kemana ? apa nggak sekalian kita camp aja ?” kata Rio merapikan tasnya.
“Udah ikut gua aja, gak usah banyak cerita entar juga lu tau kok” kata Iyan mempererat tali sepatunya. “Kalo untuk camp kayanya nggak dulu deh, soalnya belum tahu pasti kondisinya memungkinkan  buat camp atau nggak...”
“Oow gitu, yaudah tunggu apa lagi!” kata Rio kemudian bergegas berdiri.

***

Setelah hampir 3 jam lebih menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai disalah satu tempat yang berada di kawsan Bandung yaitu Bukit Bintang. Pesona Bukit ini cukup indah untuk dipandang mata dengan kesan alami nan sejuk membuat Iyan dan teman-temannya terkesima.
“Waw..Ternyata tempat yang lu maksud ini yah Iyan...” kata Ayu, tak hentinya mengedipkan mata melihat pesona bukit dan membayangkan dirinya akan berada di atas Bukit itu.
“Iya, nih yang gua maksud. Gimana lu mau naik nggak ?” kata Iyan menunjuk kearah Bukit.
“Iya pasti dong, udah capek-capek kesini masa nggak naik.” tanggap Bian mendengar keduanya.
Tere mengerutkan keningnya. “Tapi Iyan mah rese, nggak ngasih tau kalo pengen ke Bandung. Kalo tau gini kan kita bisa ke rumah nenek gua dulu. Nggak jauh kok dari sini.!”
Bian melongos. “Emang lo punya keluarga disini ? Kirain nggak punya..” sedikit tertawa. “Hehehe Sorry Ree, Bercanda kok!”
Mencubit lengan Bian.“Ihh Bian, ngesalin banget sih lu.” kembali mengerutkan keningnya. “Lu aja yang nggak tahu, dasar bisanya bikin naik darah doang.” kata Tere
“Sudahlah, ngapain berantem disini. Masalah kecil doang kok diperbesar.” kata  Iyan memotong pembicaraan.
“Iya, Iyan betul tuh.” Tambah Rio.“ Sekarang kita bagi regu jalan deh biar cepet sampai tapi pasangannya cowo cewe, takutnya kalo cewe jalannya sama cewe nggak ada yang bisa antisipaasi kalo ada apa-apa. Gimana setuju ?”
“Hmm, boleh juga tuh saran Rio. Setuju!” kata Iyan
“Iya setuju...” di ikuti oleh semuanya
“Okk. gimana kalo Ika berengan sama Hendra, Gua barengan sama Ime, Bian, Eko barengan sama Tere dan lu Ayu barengan sama Rio.” kata Iyan.
Tere nampak Memalinkan wajahnya. “Iyan, kok gua barengan sama Bian sih, gua sama lu aja deh!” berdiri disamping Iyan. “Gua nggak mau jalan bareng sama dia” menunjuk ke arah Bian.
Iyan tampak heran.”Kok gitu sih Ree, nggak apa-apa kok lu barengan aja sama Bian. Lagian kita berengan juga kok naiknya, Cuman bedanya ada yang jalan di depan dan ada yang di belakang. Ok!
“Ya udah deh,...” Kata Tere pasrah.
“Okk, Ayo jalan!”Kata Rio mulai berjalan ke depan.
Perjalanan untuk mendaki dimulai, Semua menikmati perjalanan yang penuh dengan lika-liku dan membutuhkan tenaga ekstra untuk melewatinya. Berbagai rintangan pun harus  dilewati berupa dan tanjakan dan jurang yang begitu tajam.
“Udaranya dingin banget yah Ayu...”Kata Rio mengusap-usap lengannya.
Ayu mengangguk. “Iya, lumayan lah...”mengusap kedua lengannya. “Baru pertama kali yah lu mendaki kaya gini ?”
“Hmm nggak juga sih, dulu pernah ikut mendaki sekitar dua tahun yang lalu bareng teman SMP gitu...”
Ayu kembali mengangguk“Oww gitu, seru dong!”dan memotret beberapa pohon yang cukup lebat dibaluti kabut  
“Yahh lumayan”Tersenyum tipis.  “Sejak kapan suka dunia Motret kaya sekarang Yuu ? gua dengar dari temen-temen lu jago banget yah soal ginian.”
Ayu Melongos sedikit heran mendengar pertanyaan Rio. “Ha’sejak SMP. Nggak biasa aja, cuman sekedar Hobi kok...”denagn nafas yang sedikit ngos-ngosan.
“Oww gitu, tapi cepretan lu keren kok” menaikkan kedua jempolnya. “Kayaknya lu haus yah..”Kata Rio menyodorkan sebotol air dari rannya
“Ahh nggak kok, Makasih gua punya sendiri. ”mengabil sebotol air dari ranselnya. “Gua ke depan dulu yah ke Iyan ada yang pengen gua tanyain, gua balik lagi kok tenang aja. Teman yang baik nggak akan ninggalin temannya kan..” memasukkan kembali air ke dalam ranselnya dan tersenyum lebar kepada Rio.
“Ohh iya, Temen yang baik nggak akan ninggalin temennya.”kata Rio mengulang kembali perkataan Ayu dan sekarang berada cukup jauh darinya. “kalimat unik untuk cewek yang unik” Kata Rio dalam hati.
Setengah perjalan telah dilalui, sedikit lagi  puncak Bukit Bintang akan diraih meskipun matahari sudah nampak begitu terik namun setidaknya kabut cukup bersahabat untuk menghalangi teriknya matahari dengan suhu yang agak dingin. Mereka semua sejenak beristirahat diantara deretan pohon-pohon dihiasi beberapa rumput liar yang tumbuh dibawahnya. Terlihat Iyan asyik mengabadikan momen ini dan mensharenya melalui akun Path pribadinya.
“Halo Guys, kita lagi ada di Bukit Bintang meskipun belum sampai dipuncaknya Sih, But this was anamazing experience and maybe an unforgettable adventure with them.” mengarahkan cameranya kepada mereka semua.
Rio menggelengkan kepalanya.“Dasar Iyan kurang kerjaan banget sih..” sedikit tertawa
***
Ayu yang telah berdiri diatas puncak Bukit Bintang segera  menghempaskan tangannya selebar mungkin menghirup desah tiupan angin dan memejamkan matanya seraya berteriak  “Akhirnya gua juga bisa berdiri di atas bukit ini, bukit yang berada diantara bangunan-bangunan kota yang berdiri menjadi pelengkap keindahan.”secara perlahan Ayu membuka matanya kemudian mengambil salah satu barang yang berada di ranselnya, Yah sebuah camera lengkap dengan Lensa dan Tripot untuk mengabadikan momen terindah dalam hidupnya.
Dari arah belakang terlihat seseorang menghampirinya. “Lagi nentuin Objek buat di  potret yah...” berdiri di samping Ayu. “Objek yang menarik untuk di potret, bangunan tinggi menjulang dari arah bukit Romantis ini..” Kata Rio menunjuk salah satu bangunan persis berada dihadapan mereka.
Ayu kemudian menoleh. “Ha iya, kok lu bisa ada disini ? gak ikut gabung dengan yang lain ?...” menetukan titik fokus objek. “Maksud lu barusan apa, Bukit Romantis ?” tanya Ayu
Rio memandang ke arah bangunan yang menjulang itu. “Kayaknya disini lebih nyaman ketimbang harus berada bersama mereka, sebagai teman yang baik harusnya begitu kan” Menoleh kearah Iyan dan rombongan yang lain. “Lu tahu nggak sedikit cerita tentang bukit ini ?  bukit ini merupakan bukit teromantis di Bandung. Orang-orang disini atau para pendaki yang mendaki disini sering menyebutnya Bukit romantis karena bukit ini memberikan keistimewaan tersendiri, apalagi jika momentnya pas dengan hari Valentine. Banyak Turis yang kesini untuk menikmati malam bersama pasangan mereka. Kalo lu berkunjung disini dan bisa sempet ngeliat bukit ini pada malam hari bisa jadi lu nggak akan tidur sampe pagi karena nggak ingin nyia-nyiain  semenitpun untuk sesuatu yang sangat indah.”
Ayu menoleh kearah Rio. “tapi teman yang baik nggak akan menyia-nyiakan waktunya  bersama temannya.” Menghela nafas panjang dalam-dalam. “Jadi bukit ini, dinamakan bukit romantis. Gua baru tahu sekarang!, berarti lu banyak tahu tentang bukit ini ?”
Rio sejenak memjamkan matanya. “Nggak juga, satu lagi bukit ini penuh teka-teki keajaiban dan mungkin lu akan menyadarinya ketika lu pulang dari bukit ini.”
Ayu melongos. “Maksud lu ? gua nggak ngerti!”
Dari arah kejauhan terlihat lambaian tangan Iyan. “Heii, Ayu Rio. Lu kesini buruan!”suara samar namun masih bisa ditelah oleh Ayu dan Rio sebagai Isyarat dirinya untuk kesana. Mereka berdua berjalan dan menghampiri Iyan beserta teman yang lainnya. 
“Ada apa Iyan ? kayaknya penting gitu ?” Tanya Ayu heran
“Iya penting banget, masa lu nggak mau abadiin momen ini. Maksud gua kita foto bareng gitu”mengatur posisi dan menentukan tempat yang pas untuk mengabadikan kebersamaan mereka.
Ayu mengangguk. “Oww gitu, kirain apaan. Kalo gitu biar gua yang foto kalian”
“Kok gitu, Lu juga harus ikut. Kan kita bisa minta tolong orang buat foto kita jadi semuanya bisa ikut” menarik tangan Ayu untuk ikut bersama. “Ayo buruan kesini”
Ayu pun tak bisa mengelak dan harus mengikuti kemauan sahabatnya. Foto demi foto telah termuat di dalam memory card penyimpangan. Giliran Rio yang menarik tangan Ayu secara tiba-tiba dan meminta Iyan memegang Camera.
Ayu berusaha melepas genggaman Rio dengan tatapan heran. “Ada apa ?”
Rio melepaskan genggaman tangannya .“Gua punya permintaan, sebagai teman yang baik lu harus nurut. Gua pengen foto bareng lu.” tersenyum tipis. “Iyan, tolong dong fotoin kita berdua”
Ayu menatap heran. “Ha’ lu aneh. Sebagai temen yang baik emang harus gitu…”
“Iya, Iyan yang keren yah...” kata Rio mengangkat alisnya.
“Sip beres, udah nih. Keren kok!” kata Iyan sedikit heran dan mengangkat jempolnya.
Tere mendekat “Gua perhatiin dari kemarin lu akrab banget yah...” menepuk pundak Rio dan Ayu. “Tapi cocok kok” tersenyum tipis
Ayu melongos. “Ha’nggak, sebagai temen kan emang kaya gitu.” merapikan syalnya berbalut wol berwarna merah.
Tere menganggukkan kepalanya. “Oww gitu, Anyway kita Istirahat yuk!. Gua lihat disebelah sana ada rumah setidaknya bisa rebahan dikit.” mengangkat kedua alisnya.
Iyan melirik kearah salah satu rumah yang berjejer diantara pohoh-pohon yang begitu rindang. “ Hmm, kayaknya lu betul juga Ree. Gua juga udah pegel nih pengen rebahan gitu.”
***

Secangkir susu coklat hangat berada di atas meja tak sedikitpun tersentuh. Entah apa yang dipikirkan pemilik susu coklat itu, arah pandangan dan pikirannya tertuju pada gedung-gedung yang nampak dari kejauhan sedikit samar dibaluti kabut. Mengingat kembali kata-kata itu, kata teka-teki keajaiban. Begitu penat untuk mecernanya hingga memutuskan untuk mendengar beberapa melodi lagu dalam MP3 miliknya. Kekacauan yang berada di dalam rumah tidak membuatnya merasa terusik, menikmati alunan lagu dengan nuansa sejuk dan damai
“Yuu, kok bengong sih!.  susunya nggak diminum tuh ?” kata Ika menghampirinya melirik secangkir susu coklat yang berada di meja.
Ayu menengok ke arah belakang. “Oww itu, kayaknya masih panas” kata Ayu ringan. “Nggak mungkin kan gua minum, bisa melepuh nih mulut gua.”
“Oww gitu, Ayu ada yang pengen gua omongin tapi lu nggak akan marah kan. ?” kata Ika sedikit pelan.
“ Nggak kok, ngomong aja.. ”
“ Gua pengen ngasih tahu kalo gua sama Hendra udah jadian pas malem tahun baru kemarin, dia nyatain perasaannya trus gua terima. Maaf yah gua nggak ngasih tahu lu kemaren soalnya nggak sempet, maaf juga yah nggak bisa jemput lu pas tahun baru kemarin. Gua ngerasa nggak enak ke lu... ” kata Ika menjelaskan semanya
Ayu sedikit terkejut “ Ha’ serius lu jadian sama makhluk astral itu!, Ups maksud gua Hendra. gua nggak nyangka. Berarti waktu Hendra jemput lu, udah PDKT yahh ” sedikit tertawa. “Soal yang kemarin itu gak apa-apa kok, kebetulan kemarin gua juga dijemput sama Rio.”
Giliran Ika yang terkejut. “Apa ? lu dijemput sama manusia cuek itu!. Kok lu baru cerita sih?” berdiri di hadapan Ayu. “Pantesan aja lu bisa barengan, tau-taunya bener apa kata Rio lu udah janjian duluan...”
“Iya, sama kaya lu nggak sempet cerita ”kata Ayu cengengesan.
“ Yaa, satu sama dong kalo gitu!.  Anyway kedekatan lu dengan Rio apa ada hubungan melebihi temen ? kata Ika penasaran.
Ayu tertawa. “ Kedekatan gua sama Rio biasa aja!, Yahh sebatas teman lah gak lebih. Menurut lu gua ada apa-apa gitu.”
Ika tersenyum lebar “Yahh gua kira lu ada hubungan gitu, tapi ini bukan karena lu nggak bisa move on sama Yogi kan..” sedikit mengejek.
“Ahh, kok malah bahas Yogi sih. Bukannya gua nggak bisa move on tapi lu taukan gua tuh ngerasa bersalah banget sama dia, apalagi sama Rira sepupu gua sendiri. Pokoknya itu merupakan kesalahan terbesar gua, Ngerusak hubungan orang. Gua jahat banget kan.” kata Ayu dengan mata berbinar.“ Satu lagi itu alasan gua kenapa sampai sekarang nggak pengen pacaran dulu.”
Ika menepuk pundak Ayu. “Gua ngerti kok, kan lu udah cerita. Maaf yah..” mendekap Ayu yang berada disampingnya.“ Kok gua bego banget sih ngebuat sahabat gua sendiri hampir nangis kaya gini. Maaf yah Ayu nggak maksud kok.”
“Oww iya nggak apa-apa, gua aja yang cengeng.”
“Yah udah, kita masuk yuk.. udaranya makin dingin nih. Lagian yang lain udah mulai bergegas untuk balik nih” kata Ika mempererat syalnya.
Ayu melirik ke Arah Ika “Nggak, gua masih pengen disini lu masuk aja duluan nanti gua nyusul.”
Ika menganggukan kepalanya. “Hmm, yaudah tapi jangan kelamaan yah.”melangkahkan kakinya. “Etss satu lagi tuh susu jangan lupa diminum!.”
“Okk, Sip Bu Hendra cerewet..” kata Ayu tersenyum lebar

****


Malam Pergantian Tahun (1)

   
Ini merupakan Novel Pertama saya buat, namun untuk keseluruh novelnya belum jadi, hanya bagian per-bab nya saja.


Untaian lagu terdengar dari arah samping kanan deretan Buku yang tertata rapi diatas meja dengan alunan lagu merdu membuat orang yang mendengarnya terbawa oleh syair di dalam lagu tersebut. Seakan lagu tersebut memiliki makna tersendiri bagi Ayu yang kerap kali mengingatkannya pada Seseorang  dan sebuah Penyesalan. Penyesalan tidak kunjung usai namun telah menjadi kenangan. Dari seseorang itu ia banyak mengerti tentang arti Pertemanan, Pilihan, dan cinta, ketika semuanya bersatu hanya hati yang dapat menentukan. Di tengah kekosongan hati ditemani dengan untaian lagu membuatnya tertidur sampai lupa menyusun agendanya untuk malam ini. Malam dengan sejuta kemungkinan yang terjadi, entah ia akan bertemu dengan dia sosok berbeda atau mungkin sosok yang sama. “Entahlah” dalam hatinya bergumam kemudian terlelalap dalam mimpi.
Diantara deretan buku dan alunan lagu terdengar deringan ponsel bertuliskan sebuah nama yang kerap kali menghubunginya, seketika membuatnya terbangun dari bayang-bayang mimpi.
“Iya Hallo, ada apa Iyan ?” jawab Ayu dengan suara pelan
“Lu baru bangun yah, lemes banget?”Sahut Iyan dari arah seberang telah menduga kebiasaan temennya kalo jam segini, wajarlah mereka sudah berteman baik sekitar satu tahun yang lalu saat ia pertama kali menginjak bangku SMA dan mereka berdua seakan memiliki hubungan darah layaknya Kakak dan Adik.
“Hehe iya, kok tau Iyan ?”
“Taulah, Lu kaya nggak kenal gua aja Ayu. Gua kan yang biasa nyediain jasa Ramal dipinggiran Jalan gitu..”
Ayu tiba-tiba tertawa. “Hahaha lu bisa aja, Oh iya malahan Gua kira lu yang biasa.. Hahahaha..”Belum sempat Ayu melanjutkan pembicaraannya
“ Biasa malakin Anak SD kalo lagi lewatkan, Hahaha...”Iyan ikut tertawa. “Bytheway gua hampir  lupa, gua kan nelpon lu buat ngajak lu ke rumah buat rayain malam pergantian tahun bareng temen-temen. Lu mau nggak ?”
“Hmm, gua pikir-pikir dulu yah Iyan. Saoalnya gua nggak minat nih keluar buat rayain malam tahun Baru, malahan lagi pengen stay di Rumah aja..”
“Lu  kok gitu sih Ayu, kita kan rayainnya bereng-barenng masa lu nggak ada.”
“tapi sumpah gua nggak minat Iyan..”
“Ayolah Ayu, nggak seru kalo nggak ada lu.  Sekarang lu ada di Rumah kan ? tunggu gua yah!” terdengar suara rengekan dari arah seberang, dan belum sempat Ayu menjawab pertanyaan dari Iyan telephonenya terputus.
“Gimana sih Iyan, maksa banget ngajakin gua ke acaranya padahal pengen di Rumah aja lanjutin ngebuat naskah buat dikirim bulan depan sambil ngelihat Timeline di Akun Twitter..Uuhhh” keluh Ayu dalam hati dan meletakkan kembali Ponselnya di atas Meja sambil merebahkan kembali tubuhnya diatas tempat tidur berbalutkan gambar Mawar berwarna merah.
Beberapa menit kemudian terdengar suara motor berhenti  di depan Rumah Ayu dan sepertinya itu adalah Iyan namun ditemani oleh seseorang yang tampangnya sudah tidak asing lagi bahkan mereka sudah saling mengenal dan duduk di kelas yang sama, Yahh dia Rio teman sekelas mereka dan dari arah depan terdengar ketukan pintu memanggil nama Ayu, dengan segera Ayu berjalan membuka Pintu dan bertemu dengan keduanya.
Dengan tatapan heran Ayu berjalan menuju keduanya“Eh, lu Iyan bareng Rio juga...”
“Hahaha iya, Lu nggak ngajakin gua sama Rio masuk ke Rumah lu gitu ? tanggap Iyan melepaskan helm yang merekat erat di kepalanya.
“Ohh Iya gua lupa, yuk masuk....“
“Gak usah Ayu, kita sebentar doang kok, Iyan nya aja yang kepengen masuk katanya laper gitu pengen makan cemilan.”tanggap Rio berada di dekat Iyan yang cengengesan sedari tadi
Iyan tersenyum lebar dan bersikap manis layaknya memberikan senyuman di depan Presiden. “Haha, lu kaya nggak tau gua. Wajarlah soalnya kalo orang keren tuh emang kaya gitu. Malu dong kalo dateng kerumah temennya trus nggak di suruh masuk.”
Rio dan Ayu mulai menahan tawa mendengar perkataan Iyan yang super pede meskipun pada realitanya Iyan boleh di kategorikan sebagai cowok keren yang eksis soalnya terbukti dengan banyaknya cewek yang menjadi korbannya. Yah korban buat di jadiin pacar. Namun temennya satu ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang diatas batas normal dan kayaknya sebelas dua belas dengan alay atau orang-orang biasanya nyebutnya dengan kata alayers. “Hahahaha” tawa pun tak tertahan kan lagi diantara mereka.
Ayu melangkahkan kakinya ke arah Iyan sambil menepuk pundaknya“Yayaya.. terserah lu aja Iyan, gua ngikutin dan ngemaklumin lu.”
“Hahaha dasar Iyan, Ehh ngomong-ngomong kata Iyan lu nggak pengen ikut yah acara entar malem bareng yang lain? Kenapa ? Padahal inikan acara kelas kita ”
“Gimana yah, gua males banget lagian nggak ada yang anter gua buat ke rumah Iyan. itu pun kalo gua jadi pergi, soalnya Ika nggak bawah motor kemungkinan di jemput sama Hendra padahal gua kan biasa barengan sama dia..”
“Ohh kalo gitu barengan aja.”
“Iya, lu barengan aja sama Rio ke rumah, soalnya gua juga nggak bisa jemput lu kesini soalnya gua mau urus semua persiapan buat entar malem. Lagian gua juga nggak bisa bolak balik antarin lu kan. Lu pasti nggak rela ngeliahat temen lu susah, jadi kesimpulannya lu barengan aja sama Rio. Oke?” tambah Iyan
Dengan sedikit terpaksa Ayu pun menganggukkan kepalanya melirik ke arah Iyan.“Iya udah terserah lu aja Iyan, kalo lu udah ngomong gitu gua nggak bisa ngomong lagi kecuali nurutin lu...”
Iyan tersenyum lebar dan mengarahkan pandanggannya ke Ayu, terlihat kesenangan Iyan melihat temennya yang satu itu memasang ekpresi raut wajah masem-masem kayak Aseman gitu. Ekspresi itu lah yang mengingatkan keakraban mereka untuk pertama kalinya saat Iyan membuat kesal Ayu semasa Ospek. “Oke, kalo gitu gua sama Rio balik yah pengen cari ikan dulu. Jangan lupa lu siap-siap” kata Iyan melangkahkan kakinya menuju motor dan memasang helmnya kembali lalu bergegas pergi.-Ayu yang berada di depan pintu kembali masuk ke dalam rumah dengan sejuta kebimbangan dan membuat seakan memory dalam otaknya penat memproses semua. Apalagi kedatangan Rio yang tak ia duga bersama Iyan. Dia tahu betul dirinya dengan Rio tidak begitu akrab malahan saling tegur pun mereka tak berani namun kali ini semua sangat berbeda seakan mereka telah saling mengenal satu sama lain. Meskipun pada nyatanya mereka satu kelas namun baru kali ini Rio datang untuk pertama kali ke Rumahnya.

***
Arah jarum jam terus berputar bergerak dari arah kanan dan menunjukan pada satu angka yakni angka sembilan lewat dua menit. tepat diangka itu terdengar suara dari arah depan Rumah Ayu dengan ketukan pintu yang agak pelan.
 “Permisi...”
Ayu berjalan menuju arah pintu dan sepertinya ia bisa menebak kedatangan dari sesorang yang berada di balik pintu itu. Dengan menggunakan Jeans berwarna kebiruaan serta kaos longgar bergaris-garis membuatnya semakin Anggun dibaluti sebuah jaket. Dari arah pintu terlihat Rio yang menegenakan kemeja biru malam dengan celana Jeans berwarna hitam kontras dengan rambutnya yang begitu rapi.
“Ehh Rio, Maaf Lama yah...”
Dengan terbata-bata “Ehh ii..ya, nggak apa-apa” kata Rio tersenyum lebar dan terkesan melihat penampilan Ayu malam itu, membuatnya sadar betapa cantik perempuan yang berada di hadapannya dan tak menduga bahwa ia bisa melihat sisi lain dari Ayu yang ia anggap sebagai perempuan aneh dan biasa saja bahkan ia tak menduga ternyata ia sudah sekelas hampir tiga tahun dan baru akrab saat kelas tiga.
Ayu mengangguk menatap Rio yang tampak salah tingkah.“Ohh iya, jadi kan ?”
“Hehe iya jadi kok, Ayo!..” kata Rio segera mengalihkan pandangannya setelah Ayu sadar bahwa Ia sedang di perhatikan.
Tampak raut wajah aneh yang di tampakkan oleh Rio seakan ada sesuatu yang sedari tadi ia perhatikan dan membuatnya seakan salah tingkah ketika harus melihat ke arah Ayu dan membuat Ayu semakin bingung dengan tatapan Rio yang tajam menembus bola matanya. “Apakah ada yang aneh dari penampilanku malam ini ?” tanya Ayu dalam hati.
Mereka berdua pun beranjak pergi dan menyusuri jalan-jalan yang begitu Ramai. Terlihat indahnya malam dihiasi beberapa kilauan bintang api meskipun malam pergantian tahun belum tiba tapi tidak mengurangi kesenangan orang-orang untuk  menanti malam yang ditunggu-tunggu itu, Akhirnya mereka berdua tiba dirumah Iyan.
“Lu udah datang yahh, masuk yuk!” ajak Iyan yang berdiri di teras rumah sedari tadi menunggu mereka berdua. “Temen-temen udah nungguin tuh..”
“Oww gitu, gua masuk duluan yah..” kata Ayu melangkahkan kakinya
Spontan Rio menarik tangan Ayu. “Tunggu, barengan aja masuknya..” terkesan ada yang berbeda dari kata-kata Rio barusan dan membuat Ayu seketika menoleh ke arah belakang dengan sedikit canggung mendengar kata-kata itu. Belum lagi pegangan tangan Rio  menandakan sesuatu yang berbeda.
Beberapa menit terdiam, membuat Rio sadar untuk melepaskan tangan Ayu yang sedari tadi ia Genggam. “Ehh maaf, maaf..”
“Iya, nggak apa-apa kok. Yuk!” terlihat senyuman tipis dari Ayu tertuju pada Rio dan terlihat Iyan mati kutu melihat kedua temannya itu.
Di sisi lain, suasana di dalam ruang tamu Rumah Iyan begitu Ramai dan di penuhi dengan canda tawa. Terlihat Ika teman sekelas mereka sekaligus sahabat Ayu sedang bernyanyi di iringi oleh petikan Gitar Bian ditambah lagi Adengan drama palsu yang dimainkan oleh Eko dan Ime menambah kesan tersendiri di malam itu. Namun,  Tiba-tiba saja semua orang terdiam dan mengarahkan pandangannya  pada dua orang yang baru saja masuk yaitu Rio dan Ayu.
“Benarkah mereka berdua...” bisik Tere pelan kepada Ika
Begitu polosnya Ika menjawab.“Hufft, Mungkin aja mereka ketemu di depan!” mengarahkan pandangannya begitu dalam kepada keduanya dan berusaha menapik rasa penasaran Tere. Ayu pun berjalan menuju arah Ika dan duduk disampingnya. “Hai Guys, pada heboh bener, kedengaran sampai di luar lho..”
“Lu kok bisa barengan kesini ?” tatapan tajam  Eko kepada keduanya
Ayu kemudian terdiam dan memilah-milah apa yang harus ia katakan kepada semuanya. “Oww itu, tadi...” belum sempat Ayu menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Rio bersuara. “Tadi kami janjian kesini makanya bisa barengan. Kenapa? Ada yang salah ?”
Eko sedikit Cengang mendengar apa yang baru di katakan Rio dan mengalihkan pembicaraan. “Oww gak apa-apa, yuk kita lanjutin lagi. So Happy New York Guys...”
“Yuhu..” teriak semuanya.
 Suasana kembali ramai ditambah lagi kedatangan Iyan membawa Ikan dan Beberapa daging Ayam yang siap untuk disantap telah menjadi pelengkap Tahun Baru untuk mereka semua. Iringan kebersamaan mereka mengikat seperti satu keluarga tanpa mengenal batasan. Semua saling berbagi tanpa adanya perbedaan.
“Guys, gua ada rencana nih...” terdengar suara dari Iyan yang nampak heboh sendiri.
Tiba-tiba Ime menangggapi perkataan Iyan dengan datar. “Rencana apaan sih Iyan?  rencanannya ngaco lagi yahh..”
“Nggak kok, nih Serius..” kata Iyan memperbaiki posisi duduknya dengan tatapan serius seolah berbicara di hadapan para mentri negara. “Gini kita kan punya waktu liburan selama dua minggu alias wekeend gitu, gimana kalo kita manfaatin satu hari doang buat kebersamaan kita. Gua pengen ngajak kalian semua buat telusuri pengalaman di Bukit, Gimana ada yang setuju ?”
“Hmm Bukit.. kayaknya Ide yang bagus, so ceritanya kita mendaki gitu. Menarik, Gua Setuju!”tanggap langsung dari Bian, Eko, Ime tampa pikir panjang.
“Kalo gua juga setuju sih..” lanjut Rio, Hendra, Ika dan Tere juga angkat bicara.
“Yah, jadi kesimpulannya kalian setuju kan. Tapi tunggu dulu masih ada satu suara yang belum kedengaran nih...” melirik kearah Ayu. “Gimana Yu..setuju nggak ?”
Dengan nada biasa Ayu pun menggelengkan kepalanya.“Hmm kayaknya nggak deh..”
“Kok gitu sih, lu nggak asyik nih jadi temen”
“makanya dengerin dulu, maksudnya nggak bakalan bilang nggak setuju pastinya setuju dong” Ayu kemudian tertawa. “Haha akhirnya lu kena tipu juga yah Iyan..”
“Oww gitu yahh, dasar bocah tengil udah pintar yah sekarang...”tersenyum lebar kemudian mengacak-acak rambut Ayu.
 Semua orang di dalam Rumah Iyan ikut tertawa melihat kekonyolan meraka berdua dengan keakraban yang begitu menyatu Hingga malam yang ditunggu itu pun Tiba dengan sorakan besama. “Happy New Years, Semoga Keakraban ini akan selalu teringat.”


***